Tema Puisi Cintailah Rupiah

Posted on

Manusia adalah makhluk kreatif dan dinamis yang tak kerasan dalam satu keadaan terus-menerus. Setiap hari dan setiap zaman selalu membutuhkan perubahan. Perubahan itu bisa jadi hanya variasi-variasi kecil dalam kehidupan sehari-hari, namun bisa pula perubahan besar-besaran yang berbentuk revolusi sosial. Mungkin benar kata Hirschman (1982), bahwa terjadinya perubahan sosial adalah akibat sifat manusia yang pembosan. Demikian juga dengan masyarakat Indonesia, sejak lahirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, tidak pernah puas dengan kondisi yang ada. Perubahan demi perubahan itu ditangkap oleh Taufiq Ismail yang sepanjang kreativitas kepenyairannya senantiasa peka terhadap gejala sosial di Indonesia dan bahkan dunia. Sehingga, lahirlah puisi-puisi khas ciptaannya yang memotret dengan apik setiap perubahan di Indonesia. Saat peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru Taufiq Ismail melahirkan kumpulan puisi Tirani dan Benteng (1966) dan ketika reformasi bergulir terbitlah Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998). Tentu saja bukan hanya itu buku kumpulan puisi yang telah dihasilkan oleh Taufiq Ismail. Banyak pula puisi dengan ragam tema lain di luar konteks perubahan sosial, karena penyair ini selalu berkarya sepanjang waktu walau sedang tidak ada hiruk-pikuk pergolakan sosial.

Dibawah ini adalah beberapa contoh puisi yang berkaitan dengan kondisi bangsa Indonesia.

Cintailah Rupiah

Sesuatu paling jahil malam ini aku simak sebagai perintah
Yaitu perintah agar rakyast mencintai rupiah
Buru-buru aku kekamar mandi mencegah muntah
Sesudah itu sesak nafasku menahan marah
Bertahun-tahun berbelas mungkin berpuluh ucapan
Sebagaia omong kosong masih kami coba tahankan
Antara kekebalan dan kekebalan sudah sukar dibedakan
Jangankan kritik dan kecaman, saran perlahan pun tak mempan
Wajah-wajah kaya luar biasa menukar uang Amerika

Kumpulan puisi ini memiliki keunikan, bobot, dan makna tersendiri. Salah satu keunikannya adalah keberhasilan Taufiq Ismail mengawinsilangkan sastra dengan sejarah. Banyak puisi dalam kumpulan ini yang memadukan sifat-sifat disiplin sejarah yang kaku, apa adanya, dan cenderung mati dalam menuturkan segala peristiwa; dengan keindahan subjektif yang matang dengan segala alternatif interpretasi dan luapan perasaan seorang penyair yang telah teruji. Simaklah penggalan berikut ini:

Di tahun sembilan delapan, seperti geledek bersambaran

Ketika situasi tiba-tiba berjalan balik kanan

Setelah empat windu orang pegal menunggu

Beberapa detik perubahan mirip telapak tangan dibalikkan

Tiba-tiba banyak betul orang entah dari mana orasi berapi-api

Menuduh menyalahkan sana, menyombong membenarkan sini

Merasa hebat, pintar dan benar sendiri

Pidato-pidato patriotik begitu bising, hampa dan berserakan

Cuma sedikit dapat dicatat yang agak berisi

Saksikan adegan penculikan dan penembakan

Luar biasa terjadi penjarahan dan pembakaran

100 juta orang jatuh miskin dan dihimpit pengangguran

 

Dari “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, seratus puisi Taufiq Ismail, halaman 52)
Puisi-puisi Taufik Ismail adalah puisi hati nurani. Mewakili pandangan orang banyak tentang Orde Baru. Imaji yang suram berupa sejumlah perilaku negatif seperti pragmatisme, hutang Indonesia, korupsi, suap, keserakahan penguasa, indoktrinasi, kecurangan pemilu, dan pengingkaran Undang-undang Dasar yang merupakan kegelisahan kolektif.
Taufik Ismail memusatkan perhatian tentang sejarah bangsa ini tidak diragukan lagi. Jika pada Tirani dan Benteng ditulis oleh pelaku tanpa jarak dengan sejarah, sedangkan pada MAJOI ditulis oleh saksi sejarah yang melihat tapi tidak berpartisipasi di dalamnya. Fokus Tirani dan Benteng adalah politik, sedangkan MAJOI adalah ekonomi.
Lupa kepaa sejarah itu bisa diduga akan terjadi lagi pada generasi di masa depan yang tidak mengalami sendiri Reformasi. Pada waktu itu tentu penyair seperti Taufik Ismail sudah tidak ada lagi. Rupanya penyair kita ini sudah melihat tanda-tanda itu.
Karenanya ia menulis “Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu”:
Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersma beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru
Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru
Demikianlah saling berhubungan antara penyair dan sejarah. Tema dan topik yang dipilih penyair dipengaruhi oleh sejarah, penyair jadi pencatat sejarah.
Lukacs menggunakan istilah “refleksi”. Sastra merupakan pencerminan realitas, tidak dengan melukiskan wajah hanya tampak pada permukaan, tetapi dengan memberikan sebuah pencerminan realitas yang lebih benar, lebih lengkap, lebih hidup dan lebih dinamik. Sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual secara terasing, tetapi “proses hidup yang penuh”.
Lukacs menuntut prinsip tatanan dan struktur yang pokok karena tradisi Marxis meminjam pandangan “dialektis” sejarah dari Hegel. Berpikir dialektis adalah berpikir kritis dengan menempatkan yang lama dengan kesatuan yang baru. Dengan kerangka dialektika Lukacs mampu menghindari kegagalan yang dialami oleh para pemikir neo-kantian yang meletakkan perbedaan antara ilmu pengetahuan dengan kenyataan.
Berpikir dialektis dtandai dengan kemampuan menyatukan antara yang lampau, sekarang dengan masa yang akan datang. Berpikir dialektis tidak hanya berhenti pada pemahaman realitas sebagai datum atau yang sudah ditentukan, melainkan sebagai realitas aktif yang terus mencapai kepenuhannya. Dialektika memberi sumbangan yang sangat berati bagi pemikiran Lukacs dalam memahami kemampuan manusia melepaskan diri dari “kodrat kedua” yang diciptakan oleh tatanan kapitalisme. Realitas sosial di satu pihak merupakan produk kesadaran manusia mencapai kepenuhannya, tetapi di lain pihak realitas sosial yang berkembang dalam masarakat kapitalis menjadi suatu produk yang mengasingkan manusia. Lukacs dengan kerangka dialektikanya ingin memahami manusia sebagai subjek atas realitas sosial. Menurut Lukacs, manusia menjadi subjek bila ia mampu bersatu dan mengidentifikasikan dunia di luarnya.
 Bila dianalisis berdasarkan teori Marxis, puisi “Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu” menunjukkan keterkaitan antara penulis dengan sejarahnya, termasuk refleksi ke masa depan.  Puisi ini ditulis pada tahun 1998, ketika terjadi peristiwa demontrasi besar-besaran menjelang runtuhnya Orde Baru.
Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersma beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Bila kita melihat lebih dalam lagi, latar belakang puisi “Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu”  sebagai totalitas realitas yang tidak hanya kata-kata tertulis pada baris-baris puisi. Penulisan puisi ini dibuat dengan mendasarkan pada momen-momen penting dalam gerakan mahasiswa tahun 1998 yaitu : tanggal Sidang Umum MPR 1-11 Maret 1998, Insiden berdarah Universitas Trisakti 12 Mei dan mundurnya Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998. Pada saat itu mahasiswa menduduki Gedung DPR beberapa hari untuk menuntut mundurnya Presiden karena berbagai krisis melanda Indonesia dan berbagai kebobrokan pemerintah,  Perhatikan baris-baris
Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersma beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu/Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru/ baris-baris ini mengungkapkan telah terjadi perubahan sejarah. Membuka halaman satu lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru, Orde Baru tumbang dan digantikan oleh Orde Reformasi.
Bila kita lihat pada sejarah tumbangnya Orde Baru, kita akan mengetahui bahwa runtuhnya Orde Baru karena beberapa hal, di antaranya adalah krisis ekonomi, krisis politik, dan faktor sosial.
Secara ekonomi, krisis ekonomi yang melanda Asia, yang dimulai di Thailand menghantam Indonesia. Akibat krisis ini organisasi perbankan kita menjadi berantakan yang sampai sekarang belum dapat di konsolidasi kembali. Nilai rupiah terhadap dollar Amerika tetap di dalam tingkat yang amat rendah. Kurs dolar dari Rp 1.500 hingga jatu ke angka Rp 18.000,-, sehingga harga-harga keperluan umum, terutama sembako, dalam hitungan rupiah tetap tinggi. Krisis yang melanda Indonesia juga disebabkan karena praktek KKN. Istilah KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme) adalah istilah yang paling populer yang disuarakan oleh kaum reformis untuk segera diberantas. Kolusi diantara penguasa pada masa ORBA dengan para pengusaha hanya menguntungkan kedua belah pihak. Sedangkan rakyat hanya menerima akibat buruk dari praktek tersebut. Demikian juga, korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara telah menguras sumber ekonomi negara sehingga uang yang seharusnya digunakan untuk kemakmuran rakyat tidak sampai kepada sasarannya. Adapun nepotisme adalah praktek penguasa yang lebih mementingkan anggota keluarga atau golongan untuk memperoleh jabatan serta kesempatan-kesempatan dalam dunia usaha. Penderitaan rakyat akibat krisis ekonomi dibaca dengan baik oleh kelompok intelektual terutama mahasiswa.
Kemunafikan yang berlaku semasa Orde baru, munculnya KKN di mana-mana, kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan kelompoknya. Di bidang politik, Pemilu hanya sebagai formalitas yang semuanya sudah dibuat skenario. Bagi yang memiliki perbedaan pendapat, kritis atau mengkritisi kebijakan pemerintah, akan menanngung resiko berat. Bahkan masa itu muncul istilah kuningisasi.
Inilah pengakuan generasi kami, katamu
Hasil penataan dan penataran yang kaku
Pandangan berbeda tak pernah diaku
Daun-daun hijau dan langit biru, katamu
Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu
Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu
Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu
Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu
Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu
Dan nomor yang keluar telah ditentukan dahulu
Puisi-puisi Taufik Ismail adalah puisi hati nurani. Mewakili pandangan orang banyak tentang Orde Baru. Imaji yang suram berupa sejumlah perilaku negatif seperti pragmatisme, hutang Indonesia, korupsi, suap, keserakahan penguasa, indoktrinasi, kecurangan pemilu, dan pengingkaran Undang-undang Dasar yang merupakan kegelisahan kolektif.
Demikianlah sedikit tinjauan kritik sastra Marxis pada puisi Taufik Ismail. Sebagai seorang sastrawan mempunyai tanggung jawab dan karenanya harus terlibat dalam masalah yang sedang dihadapi masyarakatnya; seorang sastrawan, kata Lukacs, hendaknya adalah seorang realis, dan seorang realis hendaknya seorang sosialis, dan sebagai seorang sosialis, sastrawan harus tahu dan terlibat dalam masalah sosial masyarakatnya. Dalam setiap karya sastra, kepedulian sosial menjadi ukuran standar keindahan dan satu-satunya ukuran kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *